Home » » Papua, Ibu Guru Ajari Kami Agar Bisa Membaca, Menulis, dan Berhitung... (potret pendidikan)

Papua, Ibu Guru Ajari Kami Agar Bisa Membaca, Menulis, dan Berhitung... (potret pendidikan)

Written By YAN on Jumat, 11 Juli 2014 | 09.13



Siapa yang tidak tergugah setiap kali mendengar anak-anak mengungkapkan perasaan hatinya. Berkatalah anak itu: “Ibu Guru inilah kami adanya, mohon jangan acuhkan kami ! Ajari kami agar bisa membaca, menghitung menulis dan kami ingin menjadi manusia seutuhnya agar sama dengan anak-anak Indonesia lainnya,” demikian sepotong ungkapan murid sekolah dasar yang disampaikan Guru SM3T Ruth Frisilia Ginting pada acara peringatan Hari Anak Internasional Senin (2/6) di lapangan terbuka Tiom Kabupaten Lanny Jaya Papua. 

Ketua Panitia Peringatan Hari Anak Internasional Fahrur Rozi melaporkan, kegiatan ini diikuti 1053 siswa dari seluruh sekolah dasar yang ada di Kabupaten Lanny Jaya.  Diselenggarakan atas kerjasama guru peserta program Sarjana Mengajar Terdepan Terluar dan Tertinggal (SM3T) Universitas Negeri Medan (Unimed) dengan Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Lanny Jaya serta mendapat dukungan penuh Bupati Lanny Jaya Bifa Yigibalom SE, MSi, Komunitas guru SM3T yang bertugas di Yahukimo, Memberamo Tengah, Tolikara dan Jayawijaya.

Acara yang berlangsung meriah itu, dihadiri Bupati Lanny Jaya Bifa Yigibalom, SE, MSi, Rektor Universitas Medan Prof.DR.Ibnu Hajar Damanik, utusan Dikti Kemendikbud, Asisten Kedeputian V UP4B  Erwin, Wahana Visi Indonesia, Perwakilan IBM Indonesia, Senior Manajer Museum MURI Paulus Pangka, SH, unsur Pimpinan TNI/ Polri Kabupaten Lanny Jaya dan Jayawijaya, sejumlah pimpinan SKPD Kabupaten Lanny Jaya dan undangan lain.
Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) juga telah memberikan dua penghargaan untuk kegiatan “Gerakan Membaca Seribu Anak Lanny Jaya” dan Menulis Surat Untuk Menteri Pendidikan dan Kebuyaan” di lembar daun kelapa hutan yang diikuti 1.053 siswa sekolah dasar Kabupaten Lanny Jaya”. Penyerahan penghargaan disampaikan langsung oleh Senior Manajer Museum MURI Paulus Pangka, SH kepada Bupati Lanny Jaya Jaya Bifa Yigibalom, SE, Msi.
“Penghargaan menulis di atas lembar daun merupakan hal terunik, tidak saja skala Indonesia tetapi dunia. Uniknya, tulisan itu ditujukan kepada pemerintah”, katanya. Semoga harapan yang ditulis anak-anak Papua itu, mendapat perhatian kalangan pejabat pemerintahan di pusat, tambahnya. Beberapa catatan yang disampaikan anak-anak kepada Mendikbud, diantaranya keluhan soal tenaga guru. Mereka berharap agar menteri memperhatikan guru-guru yang mangkir dan meninggalkan tugas mengajar dan kekuarangan jumlah guru.

Bupati Lanny Jaya Jaya Bifa Yigibalom, SE, Msi (tengah) didampangi Rektor Unimed Medan Prof DR Ibnu Hajar Damanik ketika berada di atas panggung bersama murid sekolah dasar sesaat menerima  piagam penghargaan dari Museum MURI untuk kegiatan “Gerakan Membaca Seribu Anak Lanny Jaya”. (Foto: Sudadi, UP4B)

Acara pembukaan, diawali dengan penampilan tari-tarian tradisional. Tarian itu selain tarian khas Papua dikenalkan pula tarian tradisional khas Batak “Tor-tor” yang diperankan oleh siswa-siswi sekolah dasar Tiom.  Tidak heran jika tarian Batak ada di Tiom, karena guru-guru program SM3T yang bertugas di Lanny Jaya umumnya berasal dari Unimed Medan. Penampilan tarian Batak ini mendapat apresiasi luar biasa dari undangan yang hadir. “Ini tarian “Tor-tor” rasa Papua”, komentar seorang tamu undangan asal Medan.

Tema yang dipilih dalam peringatan kali ini adalah “Anak Lanny Jaya Generasi Emas”, diisi acara “Gerakan Membaca 1000 Anak Lanny Jaya”, “Menulis Surat untuk Menteri Pendidikan dan Kebudayaan” di lembar daun kelapa hutan, “Menulis Impian 1000 Anak Lanny Jaya” dan berbagai macam lomba seperti menulis, menghitung sampai fashion show. Kegiatan ini seakan memberi semangat baru anak-anak Papua. Siswa-siswi sekolah dasar yang terkumpul sebanyak 1053 siswa itu, didatangkan dari sejumlah sekolah yang tersebar di sejumlah distrik wilayah Kabupaten Lanny Jaya. Untuk membolisasi, anak-anak sudah berkumpul sejak sore hari sebelum acara peringatan. Mereka dijemput dari sekolah asal dengan berbagai kendaraan angkutan truk dan pikup.

Anak-anak sekolah dasar mendapat jemputan mobil pikup untuk mengikuti acara peringatan Hari Anak Internasional pada esok harinya di lapangan terbuka Kabupaten Lanny Jaya. (Foto: Sudadi, UP4B)

Bupati Lanny Jaya Bifa Yigibalom, SE, Msi menyampaikan apresiasi kepada guru-guru program SM3T yang telah memprakarsasi kegiatan ini. Acara ini sungguh luar biasa, “Saya senang, melihat anak-anak hari ini tampil penuh ceria. Itu menandakan mereka senang”, katanya. Apa yang kalian kerjakan hari ini untuk Tanah Papua, tidak saja akan menumbuhkan motivasi dan rasa percaya diri siswa-siswi sekolah dasar disini tetapi akan menambah tanda heran satu ke tanda heran yang lain. Karena apa, bapak-ibu guru telah membuktikan bahwa siswa-siswi sekolah dasar kini sudah bisa membaca, menulis dan menghitung. Persitiwa ini tentu akan menjadi tonggak perubahan atas pendidikan dasar di Papua, khususnya Lanny Jaya. 

Menurut Bupati, semenjak kehadiran program SM3T berangsur buta aksara mulai berkurang. Untuk itu ia berharap kepada kemendikbud untuk meneruskan program ini khususnya di Kabupaten lanny Jaya berikutnya diberikan kuota sebanyak 100 tenaga guru program SM3T. Pemerintah daerah Lanny Jaya siap menjadi barometer pelenyelenggaraan program SM3T di Indonesia secara menyeluruh. Lanny Jaya ingin menjadikan terdepan dalam pendidikan untuk wilayah pegunungan tengah.

Kepada siswa-siswi sekolah dasar yang hadir pada acara peringatan Hari Anak Internasional, bupati berpesan agar anak-anak terus meningkatkan semangat belajar, rajin membaca dan rajin berdoa. Untuk menjadi generasi emas harus, anak terus mengasah otak agar menjadi cerdas. “Ingat emas itu dicari oleh setiap orang di dunia. harus belajar keras dan pantang anak coba dengar baik, emas dicari oleh semua org didunia ini,  untuk menjadi emas membutuhkn proses yang panjang. Untuk itu, anak-anak harus rajin ke sekolah dan menimba ilmu apa saja yang dapat menambah pengetahuan dan menjadikan diri sebagai anak cerdas. 

Anak-anak Sekolah Dasar yang tersebar di distrik-distrik yang jauh bersamaan hadir dalam acara peringatan Hari Anak Internasional di lapangan terbuka Kabupaten Lanny Jaya. (Foto: Sudadi, UP4B). 

Seorang siswi sekolah dasar, sudah pandai menggunakan kamera dan dengan percaya diri mengabadikan foto Pak Bupati Lanny Jaya dalam acara Gerakan Membaca Seribu Anak Lanny Jaya. (Foto: Sudadi, UP4B)

Disela sambutan, bupati juga melontarkan pertanyaan kepada anak-anak.
“Sekarang banyak orang mati. Itu karena apa mati ...?” tanya bupati kepada anak-anak.
Anak-anak spontan menjawab, “Penyakit!”
Bupati kembali menyampaikan pertanyaan: “Penyakit apa ...?”
Anak-anak serentak menjawab "HIV- AIDS!"

"Terima kasih, kalian sudah bisa menjawab tepat. Anak-anak sudah banyak mengetahui soal penyakit itu di sini. Penyakit itu, bisa disebabkan oleh jarum suntik, seks bebas saat usia remaja. Jangan tiru itu, anak-anak jika mempunyai cita-cita menjadi dokter, pilot dan guru rajinlah belajar dan hindari hal-hal yang merugikan diri," pinta Bupati. (Sudadi, Media Center UP4B) .(/kutipan: up4b.go.id)






Komentar Anda adalah tanggapan pribadi, Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim...
Share this article :
 
www.SuaraCampus.com
Proudly powered by Blogger
c8aa4895b1c18e0384d530182609280712a33c9599c08b39a4
Copyright © 2011. Dunia Campus Kita - All Rights Reserved